Oleh: formadntb | April 30, 2009

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang paling penting keberadaanya, sebab pendidikan di sekolah dasar merupakan dasar dari semua pendidikan. Keberhasilan seorang anak didik mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan menengan dan pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh keberhasilannya dalam mengikuti pendidikan di sekolah dasar. Oleh karena itu, keberadaan sekolah dasar di Indonesia harus bermutu, yaitu baik dan berwawasan keunggulan.

Pada dasarnya, sekolah dasar sebagai satuan pendidikan tidak akan menjadi bermutu baik atau unggul dengan sendirinya, melainkan melalui berbagai upaya peningkatan mutu pendidikannya. Disini kepala sekolah bersama stakeholders lainnya berusaha melakukan sesuatu, mengubah “status quo” agar sekolahnya menjadi lebih baik (Collier, dkk.1971; Danes,1989; dan Sergiovanni, 1987). Demikianlah, sehingga bilamana ada sekolah dasar yang baik. Disamping banyak sekolah dasar yang tidak baik maka dapat diamati bagaimana sekolah yang baik tersebut melakukan berbagai program peningkatan mutu, berbagai perubahan, atau berbagai pembaruan.

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara ektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. Selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. Begitu bayak program peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar ditetapkan dan diupayakan secara sentralistik oleh pemerintah pusat. Begitu beragam program pelatihan guru dirancang dan dilaksanakan secara terpusat dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar. Betapa bayak droping buku-buku perpustakaan, buku-buku pelajaran diupayakan secara terpusat, dan sekolah dasar tinggal menerima apa yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat, terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan oleh sekolah atau tidak. Pendek kata, peningkatan mutu pendidikan dasar sementara ini kurang memperhatikan kondisi, atau tidak berbasis sekolah.

Apa yang terjadi, peningkatan mutu pendidikan disekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan, karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terdadi nilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah, di mana kepala sekolah, guru kelas, orang tua siswa, komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan program-program peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya.

Namun, mulai tahun 2001 pemerintah mencoba menggunakan paradigma baru manajemen pendidikan baik secara makro maupun secara mikro. Paradigma baru manajemen makro dibidang pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang dilandasi oleh undang-undang nomor 1999 tentang pemerintahan daerah yang melahirkan otonomi pendidikan. Sedangkan manajemen mikro di bidang pendidikkan adalah dicobanya sebuah model manajemen tersebut biasa disebut dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMBS) atau manajemen berbasis sekolah.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas sehingga ditemukan beberapa permasalahan mendasar yang menyebabkan penigkatan mutu di sekolah belum tercapai secara maksimal antara lain:

a. Tidak tepatnya pengelolaan manajemen di tingkatan sekolah.

b. Pengelolaan sistim manajemen yang masih bersifat sentralistik.

c. peningkatan mutu pendidikan dasar sementara ini kurang memperhatikan kondisi, atau tidak berbasis sekolah.

C. Tujuan

Ingin merumuskan langkah-langkah konkrit dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Desain Manajemen Mutu di Sekolah Dasar

1. Pengertian Desain

Dari wikipedia, Desain diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata.

Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya. Akhir-akhir ini, proses (secara umum) juga dianggap sebagai produk dari desain, sehingga muncul istilah “perancangan proses”. Salah satu contoh dari perancangan proses adalah perancangan proses dalam industri kimia.

2. Pengertian Mutu

Mutu memiliki pengertian yang bervariasi. Seperti yang dinyatakan nomi pfeffer dan Anna Coote setelah mereka berdiskusi tentang mutu dalam jasa kesejahteraan, bahwa “mutu merupakan konsep yang licin” mutu mengimplikasisikan hal-hal yang berbeda pada masing-masing orang. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang setuju terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan.

Dalam rangka umum mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan” yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta atau Ebtanas). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya : komputer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dsb.

Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah ‘ terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau “kognitif” dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya : NEM oleh PKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.

Ada tiga faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yaitu : kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-input analisis yang tidak consisten; 2) penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik; 3) peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim (Husaini Usman, 2002).

3. Konsep Manajemen

Menurut para pakar administrasi pendidikan seperti Sergiovanni, Burlingame, Coombs dan Thurston (1987) mendefinisikan manajemen sebagai process of working with and through others to accomplish organizational goals efficiently, yaitu proses kerja dengan dan melalui (mendayagunakan) orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien. Oleh karena definisinya itu, banyak pakar administrasi pendidikan yang berpendapat bahwa manajemen itu merupkan kajian administrasi ditinjau dai sudut prosesya. Dengan kata lain, manajemen itu merupkanproses, terdiri atas kegiatan – kegiatan dalam upaya mencapai tujuan kerja sama (administrasi) secara efisien. Pegertian tersebut sesuai dengan pendapat Gordon (1976) yang menegaskan bahwa manajemen merupakan metode yang digunakan administrator untuk melakukan tugas-tugas tertentu atau mencapai tujuan tertentu.

Menurut Holt (dalam Winardi, 2000:25) “Management is the process of planning, organizing, leading, and controlling that encompasses human, material, financial and information resources is an organizational environment”. Manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan yang meliputi manusia, materi, pinansial, dan sumber informasi dari sebuah lingkungan organisasi.

B. Visi dan misi

a. Visi

Langkah awal dalam strategy formulation adalah penetapan visi. Visi merupakan banyangan cermin mengenai keadaan internal dan kehandalan inti seluruh organisasi. Seringkali dalam melihat pengertian visi tertukar artinya dengan misi. Oleh karena itu, perlu batasan yang agak spesifik tentang terminology visi sehingga mudah membedakan dengan misi dalam melihat tantangan masa depan organisasi visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistic dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu (dapat mengisyaratkan adanya misi dan tantangan).

Visi menjawab pertanyaan “what do we want to become?”. Vision statemen thinking about “what is our business in the future?”, or about “our mission in the future”. A vision is a statement about the future, spoken or written today; it is a process of managing the present from a stretching view of the future. Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat ini yang menjangkau ke depan.

The vision must be able to give strong sense of what are the areas of business focus (beyond the boundary-d. stace, d. dunphy). Visi harus dapat member kepekaan yang kuat tentang area focus bisnis. Hal ini lebih lanjut diungkapkan oleh (hax dan majluf, 1984;45) bahwa visi adalah pernyataan yang merupakan sarana untuk:

· Mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.

· Menperlihat framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).

· Menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.

Suatu visi agar menjadi realistik, dapat dipercaya, meyakinkan, seta mengandung daya tarik maka dalam proses pembuatannya perlu melibatkan semua stake holders. Selain ketelibatan berbagai pihak, visi perlu secara intensif komunikasikan kepada semua anggota organisasi sehingga merasas sebagai pemilik visi tersebut. Hal yang kadang terlihat simple namun sering dilupakan dalam pembuatan visi bahwa visi akan lebih mudah diingat dan dijadikan komitmen jika dibuat dalam kalimat yang singkat. Seperti disebutkan diatas bahwa visi adlah pernyataan dari organisasi tetang tujuan utama organisasi, kebijakan, dan nilai-nilai yang dianut sebagai pernyataan yang bersifat permanen. (Hax dan Majluf, 1984:49 dalam Akdon).

b. Misi

Visi yang telah kita peroleh harus kita terjemahkan kedalam guidelines yang lebih pragmatis dan konkrit yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan strategi dan aktivitas dalam organisasi. Untuk hal itu dibutuhkan misi. Pernyataan dalam misi lebih tajam dan lebih detail jika dibandingkan dengan visi.

Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai organisasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan di masa dating. Pernyataan misi mencerminkan tentang segala sesuatu penjelasan tentang bisnis/produk atau pelayanan yang ditawarkan yang sangat diperlukan oleh masyarakat untuk pencapaian misi.

Pernyataan misi harus:

· Menunjukkan secara jelas mengenai apa yang hendak dicapai oleh organisasi dan bidang kegiatan utama dari organisasi yang bersangkutan

· Secara eksplisit mengandung apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.

· Mengandung partisipasi masyarakat luas terhadap perkembangan bidang utama yang digeluti organisasi.

Sedangkan kriteria pembuatan misi meliputi :

· Penjelasan tentang bisnis/produk atau pelayanan yang ditawarkan yang sangat diperlukan oleh masyarakat.

· Harus jelas memiliki sasaran public yang akan dilayani.

· Kualitas produk dan pelayanan yang ditawarkan memiliki daya saing yang meyakinkan masyarakat.

· Penjelasan aspirasi bisnis yang diinginkan pada masa dating juga manfaat dan keuntungannya bagi masyarakat dengan produk dan pelayanan yang tersedia.

C. Analisis SWOT

Swot adalah singkatan dari strength, weaknesses, opportunities dan threats (kekuatan, kelemahan, peluan dan ancaman). Analisa swot sudah menjadi alat yang umum digunakan dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan alat yang efektif dalam menempatkan potensi institusi itu sendiri, dan analisa lingkungan.

Uji kelemahan dan kekuatan pada dasarnya merupakan audit internal tentang seberapa efektif performa institusi. Sementara peluang dan ancaman berkonsentrasi pada konteks eksternal atau lingkungan tempat sebuah instutusi beroperasi. Analisa swot berutujuan untuk menemukan aspek – aspek penting dari hal-hal tersebut diatas : kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Tujuan pengujian ini adalah untuk memaksimalkan kekuat, meminimalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan membangun peluang.

Akitvitas swot dapat diperkuat dengan menjamin analisa tersebut berfokus pada keutuhan pelangan dan konteks kompetitif tempat institusi beroperasi. Ini adalah dua variable kunci dalam membangun atau mengembangkan strategi jangka panjang institusi. Strategi ini harus dikembangkan dengan berbagai metode yang dapat memungkinkan institusi mampu mempertahankan diri dalam menghadapi kompetisi serta mampu memaksimalkan daya tariknya bagi para pelanggan. Jika pengujian tersebut dipadukan dengan pengujian tersebut dipadukan denga pengujian misi dan nilai, maka akan ditemukan sebuah identitas institusi yang berbeda dari para pesaingnya. Begitu sebuah identitas distingtif mampu dikembangkan dalam sebuah institusi, maka karakteristik mutu dlam institusi tersebut akan menjadi lebih mudah diidentifikasi.

D. Analisis Lingkungan

Analisis lingkungan organisasi melalui proses analisis lingkungan organisasi. Yang dimaksudkan disini meliputi kondisi, situasi, keadaan, peristiwa dan pengaruh dan pengaruh – pengaruh di dalam dan di sekeliling organisasi yang berdampak pada kehidupan organisasi berupa kekuatan internal, kelemahan internal, peluang eksternal dan tantangan eksternal.

1. Lingkungan Internal meliputi:

· Kekuatan (sterngth) adalah situasi dan kemampuan internal yang bersifat positif yang memungkinkan organisasi memenuhi keuntungan strategik dalam mencapai visi dan misi.

· Kelemahan internal (weakness) adalah situasi dan factor-faktor luar organisasi yang bersifat negative, yang menghambat organisasi mencapai atau mampu melampaui pencapaian visi dan misi.

2. Lingkungan Eksternal meliputi:

· Peluang (opportunity) adalah situasi dan factor-faktor luar organsisasi yang bersifat positif, yang membantu organsisasi mencapai atau mampu melampaui pencapaian visi dan misi

· Tantangan / ancaman (threat) adalah factor – factor luar organisasi yang bersifat negatife, yang dapat mengakibatkan organisasi gagal dalam mencapai visi dan misi.

E. Rencana Strategis

Rencana strategis, disebut juga dengan rencana pengembangan usaha atau institusi, yang merinci tolak ukur yang akan digunakan institusi dalam mencapai misinya. Rencana strategis biasanya disusun dalam skala waktu menengah, di atas tiga tahun. Tujuannya adalah untuk memberi sebuah pedoman dan arahan kepada institusi. Akan tetapi, rencana tersebut bukan merupakan instrument yang kaku. Harus di modifikasi jika peristiwa penting, baik internal maupun eksternal, membutuhkan. Dalam sebuah pasar pendidikan yang kompetitif, produksi rencana strategis adalah hal yang sangat penting. Tanpa rencana tersebut institusi akan menjadi kurang terarah.

Ketika analisa misi, nilai-nilai, swot dan factor penting kesuksesan telah dilakukan, maka rencan strategis harus segera mengarahkan sejumlah isu-isu kunci yang muncul. Setiap institusi harus menetukan:

· Identifikasi pasar. Hal ini perlu dilakukan karena pasar memberikan latar belakang yang penting bagi rencana strategis.

· Tingkat prosentase pasr yang ingin dimasuki institusi. Sebuah institusi harus memiliki target tingkat prosentase pasar yang harus mereka capai.

· Portofolio layanan. Hal ini harus dihubungkan secara dekat dengan identifikasi pasar dan tingkat prosentase pasar. Tanpa portofolio dan program yang tepat, institusi tidak mungkin dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

· Pengembangan portofolio. Jika institusi tidak memiliki program yang membantunya dalam meraih pasar yang ditargetkan, maka jelas institusi tersebut membutuhkan sebuah strategi dan skala waktu untuk mengembangkannya. Pengembangan tersebut tidak hanya akan mencakup program-program baru, namun juga mencakup cara baru dan fleksibel dalam menajalankan program yang sebelumnya sudah ada.

F. Desain Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional khususnya pendidikan dasar pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, antara lain melalui berbagasi pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pembelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun berbagai indikator dalam mewujudkan mutu pendidikan masih perlu peningkatan secara signifikan. Sebagian kecil sekolah menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Terkait dengan hal tersebut maka upaya peningkatan mutu pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Memperkuat Kurikulum

Misi pendidikan dasar ialah menyiapkan landasan-landasan nilai, pengetahuan, dan keterampilan yang kuat bagi setiap peserta didik. Landasan-landasan itu merupakan modal manusia (human capital) yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan baru, nilai baru, keterampilan dan keahlian baru yang diperlukan untuk hidup bersama dan membangun masyarakatnya. Pengetahuan dan keahlian-keahlian itu berkembang sedemikian cepat seiring dengan tahap perubahan dan perkembangan mayarakat yang membutuhkannya.

Kurikulum adalah instrumen pendidikan yang sangat penting dan strategis dalam menata pengalaman belajar siswa, dalam meletakkan landasan-landasan pengetahuan, nilai, keterampilan, dan keahlian, dan dalam membentuk artribut kapasitas yang diperlukan untuk menghadapi perubahan-perubahan sosial yang terjadi. Saat ini, memang telah dilakukan upaya-upaya untuk semakin meningkatkan relevansi kurikulum dengan melakukan revisi dan uji coba kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum uji coba tersebut didasarkan pada pendekatan yaitu: (1) penguasaan aspek kognitif dalam bentuk kemampuan, (2) penguasaan aspek afektif yang lebih komprehensif, dan (3) penguasaan aspek keterampilan dalam bentuk kapasitas profesional. Kompetensi itu hendaknya dapat membentuk suatu kapasitas yang utuh dan komprehensif sehingga tidak diredusir menjadi keterampilan siap pakai. Michel, (2002), Charles Quengly (2000) mengemukakan kompetensi yang berada dalam suatu keutuhan dan komprehensif dengan kapasitas lainnya. Kompetensi mensyaratkan tiga elemen dasar yaitu basic, knowledge, skill (intellectual skill, participation skill), and disposition. Melalui proses pembelajaran yang efektif, dari tiga elemen dasar ini dapat dibentuk kompetensi dan komitmen untuk setiap keputusan yang diambil. Kapasitas ini harus menjadi muatan utama kurikulum dan menjadi landasan bagi pengembangan proses pembelajaran dalam rangka pembentukan kompetensi.

Gambar 2.2. Ranah Pembentukan Kapasitas Peserta Didik

2. Memperkuat Kapasitas Manajemen Sekolah

Dewasa ini telah banyak digunakan model-model dan prinsip-prinsip manajemen modern terutama dalam dunia bisnis untuk kemudian diadopsi dalam dunia pendidikan. Salah satu model yang diadopsi adalah “School Based Management”. Pricilla Wohlstetter menjelaskan konsep school based management sebagai berikut.

“School-based manajement (SBM) is a strategy to improve education by transferring significant decision-making authority from state and district offices to individual schools. SBM provides principals, teachers, students, and parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget, personnel, and the curriculum. Through the involvement of teachers, parents, and other community members in these key decision, SBM can create more effective learning environments for children (Priscilla Wohlstetter, 2002).

Dalam rangka desentralisasi di bidang pendidikan, model ini mulai dikembangkan untuk diterapkan. Diproposisikan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS): (1) akan memperkuat rujukan preferensi nilai yang dianggap strategis dalam arti memperkuat relevansi, (2) memperkuat partisipasi masyarakat dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, (3) memperkuat preferensi nilai pada kemandirian dan kreativitas baik individu maupun kelembagaan, dan (4) memperkuat dan mempertinggi kebermaknaan fungsi kelembagaan sekolah. Model MBS tersebut tidak dengan begitu saja dapat diterapkan. Untuk keberhasilan implementasi model manajemen tersebut, masih diperlukan upaya-upaya validasi terutama validasi sosio kultural, ekonomi, dan politik serta kemampuan suatu daerah untuk mengadopsi suatu inovasi. Keberlakuan prinsip-prinsip yang digunakan bagi diterapkannya MBS di Indonesia masih perlu diuji, sejauh mana perinsip-perinsip itu dapat diterapkan di setiap daerah di Indonesia yang sangat pluralistik. Potensi dan keunggulan-keunggulan nilai budaya dan sistem masyarakat serta pranata-pranata terutama pranata pendidikan yang berbasis sekolah dan masyarakat, di samping potensi ekonomi yang dimiliki, perlu disinergikan ke dalam prinsip-prinsip manajemen modern sehingga dapat menjadi model manajemen yang efisien dan efektif dalam meningkatkan kemampuan institusi pendidikan untuk menjawab tantangan global, otonomi daerah, dan kemajuan Iptek.

3. Memperkuat Sumber Daya Tenaga Kependidikan. Memperkuat Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan

Dalam jangka panjang, agenda utama upaya memperkuat sumber daya tenaga kependidikan ialah dengan memperkuat sistem pendidikan tenaga kependidikan. Konversi 10 IKIP menjadi universitas diharapkan akan memperkuat fungsi kelembagaan kependidikan dalam mempersiapkan tenaga kependidikan yang bermutu, dalam arti lulusan yang berkeahlian baru yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Keahlian baru itu adalah modal manusia (human invesment), dan memerlukan perubahan dalam sistem pembelajarannya. Menurut Thurow (sularso, 2002), di abad ke-21 perolehan keahlian itu memerlukan perubahan dalam proses pembelajaran karena alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat, (2) keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknologi dan inovasi baru, maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan, dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu.Dengan latar belakang demikian, maka sistem pendidikan tenaga kependidikan yang hendak ditingkatkan ditantang untuk selalu mengembangkan pendekatan-pendekatan baru yang lebih efektif dan produktif dalam memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa. Artinya, pembenahan itu sudah harus dilakukan dengan semakin meningkatkan relevansi kurikulum, proses pembelajarannya, sistem pendukung, serta investasi yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran itu.

a. Meningkatkan Mutu Mengajar Melalui Program Inovatif Berbasis Kompetisi

Selama ini sekolah terutama guru masih sangat terbatas dalam melakukan inovasi-inovasi pembelajaran. Di sisi lain, upaya untuk memperkuat kemampuan mengajar telah diupayakan melalui berbagai jenis penataran, pendidikan, ataupun pelatihan-pelatihan. Melalui berbagai kegiatan tersebut dikenalkan pula inovasi-inovasi pembelajaran. Tetapi dari pengalaman empirik tampaknya upaya-upaya itu belum secara signifikan membawa perubahan dalam arti peningkatan mutu hasil belajar.Dengan pengalaman seperti itu, maka ke depan guru-guru ditantang untuk mengembangkan inovasi pembelajaran secara kompetitif. Inovasi-inovasi yang sangat diperlukan ialah inovasi baik dalam mengembangkan desain pembelajaran, pengembangan bahan ajar, pengembangan strategi dan metode pembelajaran, pengembangan sistem evaluasi, dan maupun pengembangan MBS. Kebutuhan akan inovasi itu dapat dilihat dalam dua hal yaitu untuk kepentingan inventions dan untuk kepentingan perubahan kultural sekolah, sehingga terbangun suatu kultur yang (1) berorientasi inovasi, (2) menumbuhkan kebutuhan untuk terus maju dan meningkat, (3) kebutuhan untuk berprestasi, (4) inovasi adalah sebagai suatu kebutuhan.

b. Mengoptimalkan Fungsi-fungsi Tenaga Kependidikan

Di sekolah-sekolah selama ini yang berperan utama adalah guru. Seorang guru melaksanakan berbagai fungsi baik fungsi mengajar, konselor, teknisi, maupun pustakawan. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu terdapat guru mengajar bukan berdasarkan bidang keahliannya. Kondisi ini jelas kurang menguntungkan bagi terselenggaranya proses pembelajaran yang bermutu. Padahal untuk terselenggaranya suatu proses pendidikan yang baik diperlukan fungsi-fungsi kependidikan yang saling mendukung, sehingga dapat dicapai suatu hasil yang maksimal.Kebutuhan untuk memperkuat fungsi-fungsi tenaga kependidikan tersebut, di sisi lain akan berhadapan dengan keterbatasan pemerintah dalam menyediakan tenaga-tenaga kependidikan yang diperlukan. Pemikiran Thurow di atas dapat dipikirkan pembagian guru yang diperlukan. Tetapi, pemikiran thurow dapat dikatakan bahwa bagi guru keahlian baru yang diperlukan dapat diciptakan melalui latihan di pekerjaan. Artinya perlu dilakukan langkah-langkah untuk semakin meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendayagunaan sumber daya tenaga kependidikan yang ada.

c. Pengembangan Kapasitas Pendanaan Sekolah Berbasis Persaingan

Kapasitas pendanaan sekolah menjadi salah satu implikasi penting bagi implementasi otonomi daerah dan desentralisasi di bidang pendidikan. Dalam konteks itu, sekolah ditantang untuk mampu mengelola, mengembangkan, dan meningkatkan kapasitas pendanaannya sendiri. Di sisi lain sekolah adalah suatu institusi nirlaba, dan berbeda dengan badan usaha lain yang berorientasi keuntungan. Di samping itu, pengalaman empirik memberikan data kepada kita bahwa selama ini pendanaan merupakan salah satu kendala terbesar yang dihadapi oleh semua sekolah baik swasta maupun negeri.Ke depan, terdapat kecendrungan bahwa subsidi langsung dari pemerintah semakin berkurang. Di perguruan tinggi saat ini terdapat kecendrungan pergeseran sumber pendanaan dari governance ke manajemen. Berbagai proyek kompetitif seperti QUE, DUE, TPSDP, dan peluang BHMN untuk perguruan tinggi mengindikasikan kecendrungan pergeseran dan perubahan tersebut. Pada tingkat sekolah indikasi tersebut dapat dibaca pada berkembangnya konsep dan paradigma M BS.Implikasi penting dari perubahan tersebut ialah bahwa pengelolaan sumber-sumber pendanaan harus didasarkan pada prinsip selektivitas, efisiensi, efektivitas, dan produktivitas yang tinggi. Selektivitas berarti kebutuhan investasi yang diperlukan untuk suatu proses pendidikan di sekolah harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif, serta memenuhi asas kebutuhan dan pengembangan. Untuk itu perubahan tersebut harus melalui suatu proses penilaian yang komprehensif, obyektif, dan kompetitif. Efisiensi, efektivitas, dan produktivitas adalah bagian dari indikator penting yang menjadi dasar pengambilan keputusan sejauh mana kegiatan dan investasi yang diperlukan memenuhi persyaratan penilaian.

d. Political Priorities and Koreksi Kebijakan

Desentralisasi di bidang pendidikian telah menjadi salah satu agenda utama pemerintah, dan tentunya dengan segala konsekuensi logis diterapkannya kebijakan tersebut. Pertanyaannya ialah sejauh mana pemerintah telah menempatkan atau menjadikan isu peningkatan mutu pendidikan sebagai agenda strategis pembangunan baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah. Agenda strategis tersebut harus menjadi keputusan politik pemerintah yang umumnya tercermin dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja negara/daerah. Secara konstitusional telah ditetapkan, bahwa pemerintah diwajibkan mengalokasikan dana untuk pendidikan sebesar 20% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ataupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah sudah memiliki landasan konstitusional yang memberi kewajiban impreatif untuk memberikan prioritas dalam keputusan-keputusan politik yaitu meningkatkan dukungan dana di sektor pendidikan. Agenda prioritas di samping investasi pendidikan adalah sarana prasarana, bahan dan peralatan, peningkatan kesejahteraan guru dan sistem promosi. Dalam hubungan ini, maka prinsip selektivitas, obyektivitas, dan persaingan harus menjadi landasan kebijakan peningkatan sarana dan prasarana serta kesejahteraan dan sistem promosi tenaga kependidikan.

4. Model Penjaminan Mutu Pendidikan

Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah yang berkelanjutan merupakan prasyarat bagi terwujudnya peningkatan kinerja sekolah. Adanya disparitas mutu/kinerja sekolah yang cukup memprihatinkan perlu segera mendapatkan upaya penanganan yang serius. Untuk itu perlu adanya model penjaminan mutu yang dapat dijadikan acuan untuk memastikan terwujudnya sekolah-sekolah efektif yang berkemampuan untuk mencapai standar-standar yang telah ditetapkan oleh BSNP dan secara terus menerus meningkatkan standar sekolah dari waktu ke waktu. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan penjaminan mutu digunakan model Model USE PDSA.

Model USE PDSA, seperti terlihat pada gambar 1 adalah mode analisis kebijaksanaan dan pengambilan keputusan untuk perbaikan terus menerus (continuous improvemnet = Kaizen) yang didasarkan pada konsep Roda Deming PDCA (Plan-Do-Check-Act) yang kemudian dikembangkan menjadi model USE PDSA.

Masing-masing huruf pada model USE PDSA mempunyai arti sebagai berikut :

U = Understand the quality improvement needs (Memahami kebutuhan perbaikan kualitas)

S = State the quality problem (s) (Menyatakan masalah kualitas yang dihadapi)

E = Evaluate the root cause (E) (Mengevaluasi akar penyebab masalah)

P = Plan the solution (P) (Merencanakan solusi masalah dlm. perbaikan kualitas)

D =Do or implement the solution (D) (Melaksanakan rencana solusi atau perbaikan kualitas)

S = Study the solution (S) result (mempelajari hasil-hasil solusi masalah atau perbaikan kualitas)

A = Act to standardize the solution (A) (Menstandarkan hasil-hasil solusi masalah atau perbaikan kualitas).

Adapun langkah-langkah penggunaan model USE PDSA dalam memecahkan masalah kualitas adalah sebagai berikut :

Langkah 1 : Understand The Quality Improvement Needs

Identifikasi masalah kualitas berdasarkan data yang ada

Langkah 2 : State The Quality Problem (s)

Nyatakan masalah kualitas yang dihadapi dengan pernyataan yang spesifik, tegas, jelas dan dapat diukur. Jangan menggunakan kata-kata yang tidak operasional, tidak jelas sehingga tidak diukur, seperti : kata-kata kurang lebih, rendah, sedang, tinggi dan lain sebagainya. Kecuali itu pernyataan masalah harus dapat menjawab pertanyaan 5W + 1 H yaitu : What (Apa masalahnya), Where (Dimana terjadinya), Why (Mengapa terjadi), When (Kapan terjadinya), Who (Siapa pelakunya) dan How (Bagaimana solusi masalah tersebut)

Langkah 3 : Evaluate The Root Cause (e)

Setelah masalahnya dinyatakan dengan jelas, spesifik dan operasional, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi akar penyebab masalah tersebut. Akar penyebab masalah dapat dievaluasi dengan menggunakan Cause -Effect Diagram (Diagram sebab akibat) atau Fish Bone Diagrarn (Diagram tulang ikan) atau dikenal juga dengan Ishikawa Diagram (Ishikawa adalah penemu teknik ini).

Gambar 4 Cause-effect Diagram

Langkah 4 : Plan The Solution (P)

Langkah berikutnya adalah merencanakan solusi masalah. Mengacu pada hasil evaluasi penyebab akar masalah pada langkah 3. Selanjutnya direncanakan solusi masalahnya berupa rencana perbaikan masalah yang berisikan penyebab utama masalah, tindakan perbaikan yang harus dilakukan, waktu pelaksanaan, biaya yang dibutuhkan serta penanggung jawab pelaksanaannya

Langkah 5 : Do or Impleinent the solution(D)

Irrlprementasi rencana perbaikan mengikuti Daftar Rencana Tindakan yang telah disusun pada langkah 4.

Langkah 6 : Study the solution (s)

Setelah selang waktu tertentu, dilakukan studi berdasarkan data-data yang dikumpulkan guna mempelajari apakah langkah-Iangkah perbaikan telah menghilangkan atau menurunkan penyebab masalah kualitas yang dihadapi.

Langkah 7 : Act to standardize the solution (A)

Langkah terakhir dari model USE PDSA adalah menstandarisasikan hasil-hasil dan merencanakan perbaikan terus menerus (Continuous Improvement atau KAIZEN).

Terdapat 7 alat statistik utama yang biasa digunakan sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Tujuh alat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Diagram sebab dan akibat (couse effect diagram), 2. Check sheet, 3. Diagram Pareto, 4. Run chart dan control chart, 5. Histogram, 6. Stratifikasi, 7. Scatter Diagram. Selain ketujuh alat tersebut, yang masih sering dipakai yaitu brain storming, dan flow chart.

BAB III STRATEGI IMPLEMANTASI PM

a. Perencanaan Kualitas Perencanaan kualitas adalah penetapan dan pengembangan tujuan dan kebutuhan untuk kualitas serta penerapan sistem kualitas. Dalam perencanaan kualitas harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Identifikasi pelanggan dan kebutuhan pelanggan, Penetapan tanggung jawab kualitas, Pengembangan kemampuan proses, Transformasikan rencana kualitas ke operasional.

b. Pengendalian Kualitas Pengendalian kuautas adalah penerapan teknik-teknik dan aktivitas operasional untuk memenuhi persyaratan kualitas yang telah dispesifikasikan. Adapun tahap-tahap pengendalian kualitas adalah sebagai berikut :

Evaluasi performansi aktual berdasarkan fakta (data), Membandingkan hasil aktual dengan rencana, Mengambil tindakan terhadap kesenjangan (gap) antara hasil aktual dan rencna.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kualitas adalah bahwa : Pengendalian kualitas adalah tanggung jawab semua orang.

c. Perbaikan Kualitas Perbaikan kualitas adalah tindakan-tindakan yang diambil untuk meningkatkan nilai kepercayaan dan kualitas kepada pelanggan melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi dari proses dan aktivitas melalui struktur organisasi. Perbaikan kualitas meliputi :

Menetapkan infra struktur, Identifikasi proyek perbaikan kualitas, Menetapkan tim perbaikan kualitas, Menyediakan sumberdaya untuk tim, Menentukan penyebab sistemik, Implementasi perbaikan, Memantau dan mengevaluasi efektifitas,

Hal yang paling mendasar untuk terwujudnya trilogi kualitas Juran, ini adalah basic mentality. Perusahaan atau institusi yang telah mempunyai ketetapan hati untuk mengimplementasikan total quality management harus melakukan transformasi mental dari paradigma konvensional ke paradigma TQM seperti liilustrasikan pada gambar 2.

Gambar 2 Mentality Transforrnation

KOMPONEN PENJAMINAN MUTU

a. Quality Assurance

Quality assurance yang biasa di Indonesiakan menjadi jaminan mutu adalah seluruh perencanaan dan kegiatan sistematik yang diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa suatu barang atau jasa akan memenuhi persyaratan mutu (SNI -19- 8402-1991 ) Untuk menjamin kepastian mutu maka diperlukan : Quality Planning, Quality Control, dan Quality Audit. Quality Planning atau perencanaan mutu yaitu dokumen yang berisikan pelaksanaan mutu tertentu, sumber daya dan urutan kegiatan yang terkait dengan produk, jasa dan kontrak atau proyek khusus. Quality control atau pengendalian mutu adalah teknik dan kegiatan operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan mutu. Sedangkan Quality Audit atau audit mutu adalah pengujian sistematik dan mandiri untuk penenetapkan apakah kegiatan mutu dan hasil yang berkaitan sasuai dengan pengaturan yang direrecanakan dan apakah pengaturan-pengaturan tersebut diterapkan secara efektif dan sesuai untuk mencapai tujuan.

b. Quality Improvement

Peningkatan mutu atau quality improvement adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan mutu barang atau jasa. Agar dapat sukses setiap perusahaan/institusi/lembaga harus melakukan proses secara sistematis dalam melaksanakan perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu kita dapat mengembangkan konsep dari Siklus PDCA yang dikenalkan oleh w. Edward Deming.

FASE-FASE IMPLEMENTASI PENJAMINAN MUTU

Sesuai dengan model yang digunakan yang diadaptasi dari konsep Goetsch dan Davis (19941 PP 584-589), maka fase implementasi penjaminan mutu dikelompokkan menjadi tiga fase yaitu :

  1. Fase Persiapan
  2. Fase Perencanaan
  3. Fase Pelaksanaarl

1. Fase Persiapan

Fase persiapan terdiri dari sepuluh langkah yaitu :

a. Membentuk total quality steering committee

b. b. Membentuk tim

c. Pelatihan PM (QA)

d. Menyusun Pernyataan visi dan prinsip sebagai pedoman

e. Menyusun tujuan umum

f. Komunikasi dan publikasi

g. dentifikasi kekuatan dan kelemahan

h. Identifikasi pendukung dan penolak

i. Memperkirakan sikap karyawan

j. Mengukur kepuasan pelanggan

2. Fase Perencanaan

a. Merencanakan Pendekatan implementasi.” menggunakan”. siklus PDCA b. Identifikasi proyek c. omposisi tim d. Pelatihan tim

3. Fase Pelaksanaan a. Penggiatan tim b. Umpan balik kepada steering committee c. Umpan balik dari pelanggan d. Umpan balik dari karyawan e. Memodifikasi intrastruktur

MONITORING DAN EVALUASI

System mutu selalu membutuhkan rangkaian umpan balik. Mekanisme umpan balik harus ada dalam system mutu. Hal tersebut bertujuan agar hasil akhir sebuah layanan bisa dianalisa menurut rencana. Pengawasan dan evaluasi adalah elemen kunci dalam perencanaan strategis. Jika sebuah institusi mau belajar dari penglaman dan tidak statis, maka proses evaluasi dan umpan balik harus menjadi elemen yang esensial dalam kulturnya.

Proses evaluasi harus focus pada pelanggan, dan mengeksplorasi dua isu : pertama, tingkatan dimana institusi mampu memenuhi kebutuhan individual para pelanggannya, baik internal maupun eksternal; dan kedua, sejauh mana institusi mampu mencapai misi dan tujuan strategisnya. Untuk memastikan bahwa sebuah proses evaluasi mampu mengawsi tujuan individual dan institusional tersebut, maka evaluasi tersebut harus dilakukan dalam tiga level evaluasi, sebagaimana berikut :

· Segera – melibatkan pemeriksaan harian terhadap kemajuan pelajar. Tipe evaluasi ini biasanya berlangsung secara informal, dan dilakukan oleh individu-individu guru atau pada tingkat tim.

· Jangka pendek – membutuhkan cara yang lebih terstruktur dan spesifik, yang menjamin bahwa pelajar sudah berada dalam jalur yang seharusnya dan sedang meraih potensinya. Tujuan evaluasi pada tingkatan ini adalah untuk memastikan perbaikan bagi segala sesuatu yang harus diperbaiki.

· Jangka panjang – adalah sebuah evaluasi terhadap kemajuan dalam mencapai tujuan. Evaluasi ini merupakan evaluasi yang dipimpin langsung oleh institusi secara keseluruhan.

Fungsi evaluasi pada masing-masing tahap berbeda satu sama lainnya. Evaluasi sering dilihat sebagai sebuah upaya pencegahan. Ia bertujuan untuk menemukan apa yang benar dan apa yang salah, serta menggunakan hasil evaluasi untuk meningkatkan kinerja dimasa yang akan datang. Pencegahan dari kesalahan agar tidak terulang kembali merupakan fungsi evaluasi yang valid, namun ia memilik kekurangan yang medasar. Karena hal tersebut tidak memperbaiki kegagalan yang terlanjur terjadi pada saat ini. Jika masalah telah teridentifikasi, maka harus ada mekanisme yang tepat untuk memperbaiki masalah tersebut secepatnya. Tujuan utama dari evaluasi adalah untuk memastikan bahwa apa yang menjadi target sudah mengarah pada target tersebut.

BAB IV

PENUTUP

a. Kesimpulan

Berdasarkan uruaian diatas maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal dalam rangka peningkatan mutu di sekolah dasar diantaranya yang harus dilakukan sebagai berikut :

1. Memperkuat kurikulum.

2. Memperkuat Kapasitas Manajemen Sekolah

3. Memperkuat Sumber Daya Tenaga Kependidikan

4. Pengelolaan manajemen di tingkatan sekolah.

5. Pengelolaan sistim manajemen harus bersifat desentrasilasi supaya sekolah dapat mengelola mutu yang diinginkan.

6. peningkatan mutu pendidikan dasar supaya memperhatikan kondisi, atau harus berbasis sekolah. dan

7. perlunya monitoring dan evaluasi dalam rangka pengukuran sejauh mana pencapaian tujuan berhasil dilaksanakan.

b. Saran-saran

1. Manajemen Peningkatan Mutu yang sering di seminarkan dan dikenalkan pada dunia pendidikan, ternyata banyak warga sekolah terutama guru yang belum tahu, kenal, dan memahami. Kebanyakan hanya diketahui oleh kepala sekolah, dan calon kepala sekolah. Disarankan agar hal ini disebarluaskan dan betul-betul bisa dilaksanakan di sekolah-sekolah.

2. Perlu ditingkatkan etos kerja, motivasi, kerjasama tim, moral kerja yang baik, punya rasa memiliki, mau bekerja keras agar Manajemen Mutu Pendidikan dapat terlaksana secara optimal sehingga mampu menghasilkan Mutu SDM. Disamping itu diperlukan seorang kepala sekolah yang berjiwa pemimpin dengan visi yang baik.

DAFTAR RUJUKAN

Adams, D. 1998. Defining Educational Quality: Educational Planning. Jurnal Educational Planning, 11(2) 3-18)

Adams Don dan David Chapman. 2002. The Quality of Education: Dimensions and Strategies. Asia Development Bank

Akdon. Dr. Strategic Management For Educational Management, (Manajemen Strategic Untuk Manajemen Pendidikan). Alfabeta. Bandung. Maret 2006

Alan Rugman. 2000. The End of Globalization. Random Haose Betts, Jullian R,. 1999. Returns to Quality of Education, Departement of Economics. University of California: San Diego

Charles Quegley. 2000. Global Trend in Civic Education, makalah pada Conference on Civic Education for Civil Society. CICED and USIS Jakarta, Bandung 16-17 Maret 1999

David Chapman dan Carol A Carrier. 1990. Improving Educational Quality: A Global Perspective. Greenwood Publishing Group, Incorporated

Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Laporan Hasil Ujian Akhir Nasional 2001/2002, www.pdk.go.id/infouan

Sallis, Edward. Total Quality Management In Education, Manajemen Mutu Pendidikan. IRCiSoD. Jogjakarta. November 2007

www.otakkotor.Com


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: